JHB, JAKARTA – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatatkan kinerja keuangan yang suram pada tahun buku 2025, tahun pertama maskapai pelat merah ini berada di bawah naungan Danantara.
Emiten jasa angkutan udara milik pemerintah ini justru mengalami pembengkakan kerugian hingga 4,5 kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, Garuda Indonesia membukukan kerugian US$322,4 juta pada 2025. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan periode 2024 yang hanya merugi US$72,7 juta.
Lonjakan kerugian tersebut terjadi di tengah terkontraksinya pendapatan perusahaan. Pendapatan GIAA sepanjang 2025 tercatat US$3,21 miliar atau turun 5,85% secara tahunan (year-on-year).
Sementara di sisi lain, beban usaha maskapai induk Garuda dan Citilink ini hanya mengalami penurunan tipis 0,17% menjadi US$3,1 miliar.
Setahun Dibawah Kendali Danantara, Garuda Indonesia Cetak Kerugian Hingga US$322,4 Juta
Penulis: Redaksi·Editor: Redaksi·19 Maret 2026·3 menit baca

Efisiensi yang belum optimal juga tercermin dari membengkaknya beban keuangan perseroan. Beban keuangan GIAA meningkat 9,56% menjadi US$525,79 juta pada 2025. Ditambah lagi, perseroan mencatat kerugian selisih kurs sebesar US$1,2 juta, berbanding terbalik dengan periode sebelumnya yang membukukan laba selisih kurs.
\"Di luar bisnis inti, GIAA mencatat adanya kerugian akibat selisih kurs sebesar US$1,2 juta pada 2025. Di tahun sebelumnya, perseroan mencatat laba dari selisih kurs bersih mencapai Rp18 juta,\" demikian tertulis dalam laporan keuangan perusahaan.
Sementara itu, bagian laba dari entitas asosiasi juga turun 23,5% menjadi US$5,6 juta.
Suntikan Modal Danantara Tak Penuhi Target Ekspansi
Sebagai informasi, Garuda Indonesia menerima suntikan modal senilai Rp23,7 triliun atau sekitar US$1,4 miliar dari Danantara pada akhir tahun 2025. Namun nilai tersebut menyusut dari rencana awal yang disiapkan sebesar US$1,8 miliar.
Dengan pemangkasan tambahan modal itu, manajemen Garuda memutuskan untuk tidak melanjutkan ekspansi armada sesuai rencana awal. Padahal, ekspansi armada menjadi salah satu strategi utama untuk meningkatkan pendapatan dan pangsa pasar perseroan.
Kinerja Saham Masih Fluktuatif
Di pasar modal, saham GIAA justru menunjukkan pergerakan yang menarik. Pada perdagangan Selasa (17/3/2025), harga saham Garuda Indonesia melonjak 9,38% menjadi Rp70 per lembar. Meski demikian, nilai transaksinya tergolong tipis yakni hanya Rp2,78 miliar hingga penutupan perdagangan.
Halaman 1 dari 2
Tags




