JHB, BANDUNG,- Di tengah hiruk-pikuk arus mudik yang mulai menyendatkan ruas-ruas jalan Kota Bandung, suasana berbeda terasa di Markas Resimen Mahasiswa (Menwa) Mahawarman Jawa Barat, Jalan Surapati, Selasa (17/3/2026). Tidak ada suara komando tegas atau derap langkah latihan fisik. Yang mengemuka justru kehangatan: tawa renyah, jabat erat tangan, dan cerita-cerita lama yang dihidupkan kembali.
Menwa Mahawarman, organisasi yang identik dengan ketangguhan dan kedisiplinan, hari itu menunjukkan sisi humanis yang jarang tersorot. Bukan sedang unjuk kekuatan, mereka justru merawat ingatan dan solidaritas kepada para senior— mereka yang pernah berdiri tegak di barisan yang sama, puluhan tahun silam.
Kegiatan bakti sosial itu digelar khusus untuk para sesepuh dan keluarga besar anggota Menwa yang saat ini hidup dalam keterbatasan. Sebagian dari mereka hadir dengan langkah pelan, sebagian lainnya diwakili oleh putra-putrinya. Namun satu hal pasti: tak satu pun dari mereka merasa sendiri.
Seragam Menua, Solidaritas Tak Pernah Pensiun: Menwa Mahawarman Jabar Jalin Silaturahmi dengan Para Sesepuh
Penulis: Redaksi·Editor: Redaksi·18 Maret 2026·3 menit baca

\"Ini bukan tentang seberapa besar nilai bantuan yang kami berikan. Ini tentang pesan bahwa kami tidak melupakan mereka,\" ujar Komandan Menwa Mahawarman Jabar, Ali Budiman, alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam sambutannya yang singkat namun sarat makna.
Menjadi Rumah bagi 5.000 Alumni
Menwa Mahawarman bukanlah organisasi kemahasiswaan biasa. Berdiri sejak 1964, usianya kini menginjak 62 tahun. Dalam setiap tahunnya, organisasi ini merekrut 150 hingga 200 anggota baru. Dalam satu dekade terakhir saja, tercatat sekitar 2.000 personel aktif, dengan total alumni mencapai lebih dari 5.000 orang yang tersebar di berbagai penjuru.
Namun usia panjang membawa konsekuensi tersendiri. Banyak dari para pendahulu mereka yang kini telah renta, tak lagi produktif, dan sebagian besar menjalani hidup dengan segala keterbatasan. Realitas inilah yang menggerakkan para penerus untuk hadir bukan hanya sebagai organisasi, tetapi sebagai keluarga.
Awalnya, bantuan sosial ini direncanakan diantar langsung ke kediaman masing-masing sesepuh. Namun, kendala teknis seperti tingginya mobilitas mudik dan terbatasnya personel membuat rencana itu dialihkan. Markas di Jalan Surapati akhirnya menjadi titik kumpul—sebuah keputusan yang justru membawa berkah tersendiri. Para senior dan generasi muda bisa bertemu, bercengkerama, dan berbagi cerita langsung.
Halaman 1 dari 2




